Sabtu, 07 Mei 2011

pra proposal

Nama : Mirza Aslam (B05208042)
Kosma : Sosiologi 6F2
Judul :MOBILITAS SOSIAL PEDAGANG PASAR (Studi Tentang Deskripsi Sosial Pedagang Pasar Induk Puspa Agro ,Desa Jemundo, Kabupaten Sidoarjo, Jatim).

A. Latar Belakang Penelitian
Dalam dunia modern yang saat ini banyak orang melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang lebih sukses dan memungkinkan mereka melakukan suatu jenis pekerjaan yang paling cocok dari diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa memiliki hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila sebaliknya tingkat mobiitas sosial lebih rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terpenjara dalam status nenek moyang mereka yang telah diwariskan secara turun temurun. Maka bisa dikatakan mereka hidup dalam kelas sosial tertutup. Itulah salah satu alasan mengapa mereka para pedagang berjualan di pasar induk puspa agro yang berlokasi di Desa Jemundo, Sidoarjo. Dengan mobilitas sosial tersebut jelas mereka menginginkan perpindahan dari kelas sosial satu menuju kelas sosial yang lebih baik.
Pasar juga mengalami perubahan, perubahan tersebut disebabkan oleh adanya pergeseran-pergeseran dalam segala hal. Sehingga pasar juga dapat dikatakan mengalami mobilitas sosial. Terjadinya mobilitas sosial yang demikian disebabkan oleh masyarakat kota yang heterogen, terkonsentrasinya kelembagaan- kelembagaan, saling tergantung organisasi-organisasi dan tingginya diferensiasi sosial. Biasanya mobilitas sering terjadi di kota dibandingkan di daerah pedesaan.
Pasar-pasar tradisional yang ada sebelum pasar induk puspa agro dianggap dengan kondisi yang memprihatinkan, sepanjang jalan akses antara penjual satu dengan penjual lainnya yang becek terutama pada musim hujan, serta kumuh dan tidak teratur tersebut membuat konsumen tidak nyaman dengan pelayanan dan fasilitas yang tersedia, sehingga daya tarik terhadap pembeli kurang maksimal dan mengakibatkan pendapatan pedagang relative rendah. Sedangkan pendapatan pedagang Pasar Induk Puspa Agro meningkat karena kondisi pasar sekarang bersih dan teratur. Sehingga konsumen tertarik untuk berbelanja di sini, dan status sosial pedagang Pasar Induk Puspa Agro juga meningkat. Walaupun ada juga sebagian kelompok pedagang yang mengeluh karena sepinya pembeli yang dating ke stand kecuali hari sabtu dan minggu saja. Secara otomatis pendapatan mereka lebih rendah dibandingkan ketika menempati pasar sebelumnya. Dengan adanya kondisi pasar yang bersih, teratur, dan disediakannya kenyamanan antara penjual dan pembeli tersebut, apakah ada pergeseran status sosial dan nilai ekonomisnya bagi para pedagang Pasar Induk Puspa Agro.
Dari beberapa fenomena tersebut, penulis tertarik untuk meneliti pergeseran status sosial. Yang dimaksud status sosial adalah merubah standard hidup para pedagang, artinya kenaikan penghasilan tidak menaikkan status sosial secara otomatis melainkan akan merefleksikan suatu standard hidup yang lebih tinggi. Status sosial pedagang di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila mereka tidak mengubah standard hidupnya, misalnya jika mereka tetap hidup dengan pola sederhana ketika masih berdagang di pasar tradisional sebelumnya. Selain meneliti pergeseran status sosial tentunya juga tingkat kesejahteraan pedagang yang ada di Pasar Induk Puspa Agro.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang pedagang Pasar Induk Puspa Agro setelah pindah dari pasar-pasar tradisional sebelumnya?
2. Faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya mobilitas sosial pedagang Pasar Induk Puspa Agro?
3. Bagaimana kondisi pedagang Pasar Induk Puspa Agro pada saat ini?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui mobilitas sosial pedagang, perpindahan pedagang menuju pasar baru di Pasar Induk Puspa Agro Sidoarjo.

D. Definisi Konsep
1. Mobilitas sosial
Menurut Paul B Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial satu menuju ke kelas sosial lainnya atau bisa dikatakan pindah dari strata satu ke strata yang lainnya. Mobilitas sosial mudah terjadi terutama pada masyarakat yang terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya pada masyarakat yang tertutup kemungkinan pindah strata lebih sulit. Misalnya pada masyarakat feudal atau pada masyarakat yang menganut system kasta. Pada masyarakat yang menganut system kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah maka untuk selamanya ia berada pada system kasta yang paling rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki keahlian ataupun kemampuan. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata yang lain yang lebih tinggi.
Beberapa variabel mobilitas sosial
a. Mobilitas sosial secara horizontal, maksudnya ialah peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya. Mengenai mobilitas sosial secara horizontal jika direlasikan dengan pedagang Pasar Induk Puspa Agro maka para pedagang telah melakukan gerak sosial dari pasar tradisional ke Pasar Induk Puspa Agro tanpa mengubah status sosialnya.
b. Mobilitas sosial secara vertikal, maksudnya ialah perpindahan individu atau objek- objek sosial dari suatu kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, mobilitas sosial vertikal dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
• mobilitas sosial vertikal ke atas (social climbing). Jika direlasikan dengan pedagang Pasar Induk Puspa Agro maka masuknya pedagang-pedagang yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi karena di anggap mempunyai wawasan lebih dalam berdagang.
• mobilitas sosial vertikal ke bawah ( social sinking). Jika direlasikan dengan pedagang Pasar Induk Puspa Agro maka seorang pedagang membentuk organisasi baru yang memungkinkan dia menjadi ketua dari organisasi tersebut, sehingga status sosialnya naik.
2. Pasar
Pasar adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk melakukan kegiatan transaksi jual beli. Adapun syarat- syarat terjadinya pasar meliputi, antara lain: adanya penjual, adanya pembeli, tersedianya barang yang diperjualbelikan, dan terjadinya kesepakatan antara penjual dan pembeli. Pasar memiliki sejumlah fungsi dalam kegiatan ekonomi. Fungsi pasar dalam kegiatan ekonomi meliputi tiga hal, yaitu pertama fungsi distribusi, yang dimaksudkan adalah mendekatkan jarak antara konsumen dan produsen dalam melakukan transaksi. Kedua, fungsi pembentukan harga, yang dimaksudkan adalah dalam proses tawar menawar, keinginan kedua pihak digabungkan untuk menentukan harga kesepakatan atau harga pasar. Ketiga, fungsi promosi, yang dimaksudkan adalah tempat yang paling tepat untuk promosi produk-produk baru kepada calon pembeli hanyalah pasar, karena pasar setiap hari banyak dikunjungi oleh pembeli sehingga semua sudut pasar merupakan tempat yang strtegis digunakan untuk kegiatan promosi.
3. Pedagang
Pedagang adalah orang yang melakukan kegiatan untuk menjual barang dagangannya. Pedagang biasanya melakukan berbagai aktivitas untuk berjualan maupun untuk merawat barang dagangannya supaya cepat laku terjual, kelihatan menarik untuk dibeli, serta menawarkan barang dagangannya kepada pembeli yang melintas di depan standnya. Para pedagang di Pasar Induk Puspa Agro menjual berbagai barang dagangannya seperti sayur mayur, buah- buahan, rempah-rempah, dan berbagai lauk pauk. Di pasar ini mereka berjualan selama kurang lebih 24 jam dan itupun dilakukan setiap hari dan sebagian para pedagang juga tidak mengenal hari libur, ini semua dilakukan karena kebutuhan konsumen yang harus diadakan setiap hari.
E. Kerangka Teoritik
1. Teori Modernisasi
Modernisasi telah mencakup suatu transformasi kehidupan bersama yang tradisional menuju ke arah modern. Menurut gagasan Phil Astrid, bahwa “ modernisasi adalah proses menggunakan kesempatan yang diberikan oleh perubahan demi kemajuan”. Proses modernisasi bukan bersifat mengadakan perubahan besar dalam masyarakat, melainkan mempergunakan perubahan dan mengarahkannya pada kemajuan dan perbaikan nasib manusia, di mana demi hasil sebaik-baiknya manusianya sendiri secara mental juga harus disiapkan.
Modernisasi sebagai gerakan sosial sesungguhnya bersifat revolusioner, yaitu perubahan cepat dan secara besar-besaran dari tradisional ke modern. Selain hal tersebut modernisasi juga berkarakter kompleks (melewati banyak cara dan disiplin ilmu), sistematik, menjadi gerakan global yang akan mempengaruhi semua manusia, melalui proses yang bertahap untuk menuju suatu yang homogenisasi dan bersifat progresif.
Setidaknya modernisasi mengandung tiga makna, pertama makna umum yaitu sebagai perubahan sosial progresif apabila masyarakat bergerak maju menurut skala kemajuan yang diakui. Kedua, makna lebih khusus secara historis yaitu sebagai modernitas telah melakukan transformasi sosial, politik, ekonomi, dan cultural. Ketiga modernisasi dalam arti khusus yaitu hanya mengacu pada masyarakat tertinggal dan menggambarkan upaya mereka untuk mengejar ketertinggalan dari masyarakat yang maju, dengan kata lain modernisaasi menggambarkan gerakan dari pinggiran menuju pusat masyarakat modern.
David Mc Clelland, Ia adalah seorang tokoh pertumbuhan ekonomi sosial sering dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam teori modernisasi. Atas dasar refleksi Mc Clelland terhadap tesis Max Weber, jika etika protestant menjadi pendorong pertumbuhan di Barat, analog yang sama juga dapat untuk melihat pertumbuhan ekonomi sosial. Rahasia pikiran Weber tentang etika protestant menurutnya adalah the need for achievement (N’ach). Dengan itu Mc Clelland menyimpukan bahwa khayalan ada kaitannya dengan dorongan dan perilaku dalam kehidupan masyarakat, yang dimaksud N’ach, yaitu nafsu untuk bekerja secara baik, bekerja tidak demi pengakuan sosial, melainkan dengan dorongan kerja demi memuaskan hati dari dalam.
Teori modernisasi ini digunakan oleh peneliti dengan mempertimbangkan yang menjadi objek penelitian adalah mobilitas pedagang. Sesuai dengan perkembangannya, pasar Induk Puspa Agro mengalami perkembangan yang begitu pesat. Para pedagang dapat meningkatkan statusnya dengan keahlian-keahlian tertentu yang dimiliki, yaitu dengan cara memperbanyak kreativitas dan inovasi baru, tentu saja hal itu didapat dengan adanya pengalaman dan pendidikan yang cukup. Usaha-usaha tersebut tidak cukup untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pedagang, tapi diselingi dengan nilai-nilai keagamaan yang dianut sesuai dengan keyakinan masing-masing pedagang. Seperti halnya orang Islam melakukan sholat dan berdo’a agar segala usahanya dapat bejalan lancar dan barokah. Secara otomatis mereka dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan dalam kehidupan setiap harinya.
2. Teori Pilihan Rasional
Teori pilihan rasional James S. Coleman dalam bukunya Ritzer tampak jelas dalam gagasan dasarnya, bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu ditetentukan oleh nilai atau pilihan, tetapi selain coleman menyatakan bahwa untuk maksud yang sangat teoritis, ia memerlukan konsep yang lebih tepat mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi dimana memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Maka teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor dimana aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud artinya aktor mempunyai tujuan dan tindakan tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan tersebut, aktorpun dipandang mempunyai pilihan atau nilai serta keperluan. Teori pilihan rasional tidak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor, yang penting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tingkatan pilihan aktor.
Teori pilihan rasional ini tanpa disadari telah digunakan oleh pedagang, karena pedagang mempunyai pilihan dimana mereka akan berdagang. Mereka memilih pasar Induk Puspa Agro untuk dijadikan tempat berdagang karena mereka menganggap bahwa barang dagangannya akan terjual dan mendapatkan untung yang banyak, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Tidak lain adalah mempunyai tujuan untuk menggambarkan suatu fenomena tertentu dengan bertumpu pada prosedur-prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau tulisan dari orang-orang dan pelaku secara holistik atau utuh.
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Menurut Whifney dalam Moh. Nazir metode deskriptif merupakan suatu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Oleh karena itu, pendekatan kualitatif lebih cocok dengan fokus penelitian, di mana penelitian ini bukan dalam rangka pengujian hipotesis untuk memperoleh signifikansi atau tidaknya perbedaan atau hubungan antar variabel, melainkan hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan sebelumnya.
Dengan demikian penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif ini memberi gambaran tentang keadaan suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih. Tingkat analisis dalam penelitian ini hanya sampai pada taraf deskripsi, yakni menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan.
Oleh sebab itu peneliti lebih memilih metode penelitian kualitatif, karena peneliti lebih merasa bahwa metode yang digunakan itu sesuai dengan objek penelitiannya, dimana di dalamnya sudah tidak perlu lagi menggunakan atau menyebarkan angket, berpandangan bahwa dengan sibuknya pedagang berjualan maka penyebaran angket sulit untuk dilakukan, dan karena peneliti akan lebih mengutamakan melakukan observasi atau pengamatan langsung selama lima hari, selain itu pula peneliti juga akan melakukan wawancara secara langsung dengan orang-orang yang bersangkutan tidak lain adalah pedagang pasar Induk Puspa Agro.
Lalu alasan mengapa peneliti tidak menggunakan metode penelitian kuantitatif, karena jelas bahwa metode tersebut tidak sesuai lagi dengan objek penelitian yang peneliti lakukan. Dan selain itu dalam penelitian ini nantinya tidak perlu lagi memerlukan rujukan pada ilmu alam yang sifatnya statis tetapi peneliti nantinya akan merujuk pada ilmu sosial yang sifatnya lebih dinamis.
Kemudian dilanjutkan dengan berusaha untuk merasakan apa yang dialami objek, atau melakukan partisipasi yang mendalam dari researcher atau istilah lainnya adalah verstehen dengan begitu sudah tidak ada alasan lagi mengapa tidak menggunakan metode kuantitatif, yaitu karena ketidaksesuaian dengan objek penelitiannya.

2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang menjadi pilihan peneliti ialah Pasar Induk Puspa Agro yang berlokasi di Desa Jemundo, Kabupaten Sidoarjo. Dan peneliti juga sengaja memilih daerah tersebut karena memang penelitiannya berkenaan dengan judul penelitiannya, yaitu “MOBILITAS SOSIAL PEDAGANG PASAR (Studi Tentang Deskripsi Sosial Pedagang Pasar Induk Puspa Agro , Desa Jemundo, Sidoarjo, Jatim)”, selain itu faktor yang mendukung peneliti untuk meneliti di lokasi tersebut karena lokasi tidak sebegitu jauh dari kediaman peneliti, hal itu akan mempermudah peneliti untuk menjalani penelitian.
3. Jenis dan Sumber Data
Jenis dalam penelitian ini dibagi dalam bentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data. Sesuai yang dikonsepsikan oleh Lofland and Lofland .
a. Kata-kata, ialah diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara oleh pedagang pasar Induk Puspa Agro.
b. Tindakan, ialah tindakan yang dilakukan oleh pedagang pasar.
c. Sumber Data, ialah sumber data yang langsung didapatkan dari informan yaitu pedagang pasar Induk Puspa Agro, lalu memberikan datanya kepada peneliti.
4. Tahap- Tahap Penelitian
a. Tahap pra Lapangan
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui apa yang perlu diketahui dan disebut juga tahap orientasi untuk memperoleh gambaran umum. Yaitu dilakukan dengan prosedur:
• Menyusun rancangan penelitian
• Memilih lapangan penelitian
• Mengurus perizinan
b. Tahap Lapangan
Pada tahap ini peneliti memasuki proses pengumpulan data yang digunakan untuk mempertajam masalah dan untuk di analisis dalam rangka memecahkan masalah.
c. Analisis Data
Hasil penelitian sebelum dan sesudah terkumpulkan perlu di cek kebenarannya agar tidak terjadi keragu-raguan.
5. Teknik Pengumpulan Data
Strategi pengumpulan data yaitu membicarakan tentang bagaimana cara peneliti mengumpulkan data. Dalam penelitian kualitatif peneliti menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data , terdiri dari:
a. Metode kepustakaan
b. Metode observasi
c. Metode wawancara
d. Metode dokumentasi.

6. Teknik Analisis Data
Dalam teknik analisis data hal pertama yang akan dilakukan oleh peneliti, yaitu melakukan anaisis data seperti apa yang diungkapkan Bodgan dan Biklen. Bahwa peneliti akan berupaya menganalisis data dengan jaan bekerja dengan data, meng-organisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang harus dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Adapun proses bejalannya peneliti akan dilakukan seperti apa yang diungkapkan Seidel sebagai berikut:
a. Peneliti akan mencatat yang berupa catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya dapat ditelusuri.
b. Peneliti akan mengumpulkan data yang diperoleh kemudian memilah-milah, mengklasifikasikan, mensistensiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeks data yang diperoleh.
c. Peneliti akan membuat kategori data agar mempunyai makna, mencari sekaligus membuat temuan-temuan umum. Sesuai dengan jenis penelitian yang menjadi pilihan peneliti, yaitu penelitian kualitatif.








G. Pedoman wawancara
1. Dengan siapa saja Anda berdagang di Pasar Induk Puspa Agro?
2. Apa yang menjadi alasan Anda berdagang di Pasar Induk Puspa Agro?
3. Apa perbedaan pasar tradisional yang dulu dengan Pasar Induk Puspa Agro?
4. Bagaimana persaingan dagang antara pasar sekarang dengan pasar yang dulu?
5. Selain berdagang, bagaimana meningkatkan perekonomian keluarga?
6. Apakah menurut Anda terdapat peningkatan penghasilan selama berjualan di pasar ini?
7. Menurut Anda faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya naik atau turunnya penghasilan?
8. Diantara sekian Blok, mana yang menurut Anda paling strategis?
9. Bagaimana menurut Anda prospek dari pasar ini?
10. Apakah hasil Anda berdagang, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari keluarga Anda?
11. Dengan berdagang di pasar ini, apakah status sosial Anda naik atau bahkan turun?
12. Ketika status sosial Anda sudah naik, apakah itu tujuan dari berdagang di pasar ini?






DAFTAR PUSTAKA

Fakih, Mansour, 2003, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
J. Moelang, Lexy, 2005, Metode Penelitian Kuantitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nazir, Moh, 1988, Metode Penelitian ,Jakarta: Ghalia Indonesia
Ritzer George dan J. Goodman Douglas, 2004, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Prenada Media.
Soehartono, Irawan, 1995, Metode Penelitian Sosial; Suatu Trknik Penelitian Bidang Kesejahteraan dan Ilmu Sosial Lainnya ,Bandung: Remaja Rosdakarya
Soekanto, Soerjono, 1990, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press.
Soelaman, Munandar, 1992, Ilmu Sosial Dasar Teori Dan Konsep Ilmu Sosial, Bandung: PT. Eresco.
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, Bandung: Alfabeta.
Sztompakaa, Piotr, 2005, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada.
S. Susanto, Phil Astrid, 1983, Pengantar Sosiologi Dan Perubahan Sosial, Jakarta: Bina Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar